Indonesia Darurat TBC, Masyarakat Diminta Berperan Aktif dengan #141CekTBC

Masalah tuberkulosis atau TBC di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Setiap tahun kasus TBC terus bertambah, bukan malah menurut. Indikasi Indonesia Darurat tercermin jelas dalam laporan Global Tuberculosis Report 2021 yang dirilis oleh Badan Kesehatan Dunia atau WHO, Indonesia menyumbang 8,5% total kasus penyakit TBC di seluruh dunia.

WHO menempatkan Indonesia di posisi ketiga negara dengan kasus TBC terbesar di dunia, berada di bawah India dan Tiongkok yang di posisi kedua. Situasi pandemi seakan menjadi salah satu faktor kenaikan penularan infeksi TBC, karena terbatasnya ruang gerak masyarakat dan pasien itu sendiri.

Menurut data Kementerian Kesehatan, diperkirakan ada sekitar 824 ribu kasus TBC di Indonesia, namun hanya sekitar 384 ribu yang terdeteksi dan dilaporkan ke Kemenkes pada tahun 2021. Masalah TBC di Indonesia semakin tidak bisa diremehkan karena diperkirakan 11 orang per jam meninggal karena TBC, baik itu TBC biasa, TBC resisten obat, atau TBC terkait HIV.

Bagaimana Cara Memutus Mata Rantai Penularan TBC?

Menjawab pertanyaan di atas, maka pada awal tahun 2022 ini, Stop TB Partnership Indonesia mendukung Kementerian Kesehatan mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk lebih peka terhadap gejala-gejala awal TBC agar melakukan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan dan mengobatinya sampai tuntas.

Ajakan dikemas dengan kampanye komunikasi digital yaitu #141CekTBC yang diharapkan bisa mengubah persepsi masyarakat Indonesia terhadap gejala dan akses pemeriksaan penyakit TBC.

Dalam kondisi pandemi COVID-19 dan di wilayah endemis TBC seperti Indonesia, promosi kesehatan untuk mendorong masyarakat mencari pelayanan kesehatan yang tepat semakin diperlukan.

#141CekTBC ini merupakan upaya mengajak masyarakat Indonesia untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan ketika merasakan gejala TBC agar mendapatkan pemahaman yang tepat.  Sehingga masyarakat Indonesia dengan gejala batuk terus menerus selama 14 hari atau lebih tidak melakukan pengobatan tanpa melakukan tes dan mendapatkan diagnosis dokter terlebih dahulu.

Ada Fitur Chatbot 141CekTBC

Ilustrasi Telemedicine. (Shutterstock)

Kampanye komunikasi digital ini dilengkapi dengan berbagai fitur-fitur yang memudahkan masyarakat Indonesia mengetahui risiko dan gejala Tuberkulosis di dalam dirinya. Seperti fitur Chatbot 141CekTBC yang akan segera hadir dan bisa diakses dari website https://141.stoptbindonesia.org untuk memudahkan masyarakat mengidentifikasi TBC sejak dini, sampai membantu mereka mengetahui lokasi fasilitas kesehatan terdekat untuk melakukan pemeriksaan. Tidak hanya itu, fitur ini bisa menyambungkan masyarakat Indonesia langsung dengan dokter melalui rekanan e-health platform serta komunitas peduli TBC terdekat

Fitur lainnya yang juga membantu masyarakat Indonesia dalam mengetahui tentang gejala Tuberkulosis lebih cepat adalah fitur Pengingat 141CekTBC. Fitur ini bisa membantu masyarakat menandai berapa lama gejala batuk yang dialami sudah berlangsung dan, jika mencapai hari ke-14, masyarakat akan menerima pengingat untuk memeriksakan diri ke dokter agar mendapat penanganan yang tepat.

Membangun kesadaran masyarakat Indonesia tentang Tuberkulosis diusung oleh Stop TB Partnership Indonesia untuk mendorong perilaku pencarian pelayanan kesehatan yang tepat.

“Di masa pandemi ini, banyak masyarakat sudah mengenal gejala COVID-19 dan mulai memperhatikan isu kesehatan. Kami berharap kampanye #141CekTBC dapat mendorong kesadaran baru bahwa jika batuk tak reda dalam 14 hari atau lebih, sudah waktunya untuk melakukan pemeriksaan ke dokter”, ujar dr. Henry Diatmo, MKM selaku Direktur Eksekutif Stop TB Partnership Indonesia.

Kampanye komunikasi digital #141CekTBC diharapkan bisa membantu masyarakat Indonesia mempunyai taraf kehidupan yang lebih sehat dan lebih baik daripada sebelumnya. 14 Hari Batuk Tak Reda? 1 Solusi, Cek Dokter Segera!

Untuk informasi lebih lanjut, sila kunjungi  website 141.stoptbindonesia.org atau https://tbindonesia.or.id dan follow media sosial Instagram/Twitter/Facebook: Stop TB Partnership Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *