Kabupaten Kebumen

Kabupaten Kebumen

Kabupaten Kebumen
Transkripsi bahasa daerah
 • Hanacarakaꦏꦼꦧꦸꦩꦺꦤ꧀
Pantai Menganti

Pantai Menganti
Lambang resmi Kabupaten Kebumen

Julukan:

Burung Walet
Motto:

Bhumi tirta praja mukti
(Sanskerta) Bumi dan air adalah untuk kesejahteraan bangsa dan negara
Peta

Peta
Kabupaten Kebumen di Jawa

Kabupaten Kebumen
Kabupaten Kebumen
Peta

Koordinat: 7.6294°S 109.5706°E
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Tengah
Dasar hukumUU No. 13/1950
Hari jadi21 Agustus 1629 (umur 393)
Ibu kotaKota Kebumen
Jumlah satuan pemerintahan

Daftar
Pemerintahan

 • BupatiH. Arif Sugiyanto, S.H.
 • Wakil BupatiHj. Ristawati Purwaningsih, S.ST., M.M.
Luas

 • Total1.581,11 km2 (61,047 sq mi)
Populasi

 • Total1.405.644
 • Kepadatan889/km2 (2,300/sq mi)
Demografi

 • AgamaIslam 98,61%
Kristen 0,89%
– Protestan 0,61%
– Katolik 0,28%
Buddha 0,48%
Hindu 0,03%
[4][5]
 • BahasaIndonesiaBahasa Jawa Kedu, dan Bahasa Jawa Banyumasan
 • IPMKenaikan 73,24 (2020)
Tinggi[6]
Zona waktuUTC+07:00 (WIB)
Kode area telepon+62 287
Pelat kendaraanAA xxxx **D/*J/*M/*W
Kode Kemendagri33.05 Edit nilai pada Wikidata
DAURp 2.022.910.412.000.-(2020)[7]
Semboyan daerahKebumen Beriman
(Bersih, Indah, Manfaat, Aman, dan Nyaman)
Flora resmiKelapa genjah entog
Fauna resmiWalet sarang-putih
Situs webwww.kebumenkab.go.id
Jalan Soekarno Hatta Kebumen Jateng Indonesia

Jalan Soekarno Hatta Kebumen Jateng Indonesia

Kebumen (Jawaꦏꦼꦧꦸꦩꦺꦤ꧀) adalah sebuah wilayah kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa TengahIndonesiaIbu kotanya adalah Kecamatan Kebumen Kota. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara di Utara, Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Purworejo di Timur, Samudra Hindia di Selatan, serta Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Banyumas di sebelah Barat. Penduduk kabupaten Kebumen di tahun 2021 berjumlah 1.405.644 jiwa. Wilayah Kebumen seluas 1.581,11 km2 merupakan hasil penggabungan dua kabupaten (regenshap), yaitu Kabupaten Karanganyar (Roma) di bagian barat dengan Kabupaten Kebumen (Pandjer) di bagian timur pada 1 Januari 1936.[8]

Geografi[sunting | sunting sumber]

Secara geografis, Kabupaten Kebumen terletak pada 7°27’–7°50′ Lintang Selatan dan 109°33’–109°50′ Bujur Timur. Bagian selatan Kabupaten Kebumen merupakan dataran rendah, sedangkan pada bagian utara berupa pegunungan dan perbukitan yang merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan Serayu Selatan. Sementara itu di barat wilayah Gombong, terdapat Kawasan Karst Gombong Selatan sebuah rangkaian pegunungan kapur yang membujur hingga pantai selatan berarah utara-selatan. Daerah ini memiliki lebih dari seratus gua berstalaktit dan stalagmit. Sementara itu panjang pantai sekira 53 Km yang sebagian besar merupakan pantai dengan fenomena gumuk pasir. Sungai terbesar di Kabupaten Kebumen adalah Sungai Luk Ulo, Sungai Jatinegara, Sungai Karanganyar, Sungai Kretek, Sungai Kedungbener, Sungai Kemit, Sungai Gombong, Sungai Ijo, Sungai Kejawang, dan Kali Medono.

Luas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Lahan pertanian di daerah Kebumen

Kabupaten Kebumen mempunyai luas wilayah sebesar 158.111, 50 ha atau 1.581, 11 km² dengan kondisi beberapa wilayah merupakan daerah pantai dan pegunungan, tetapi sebagian besar merupakan dataran rendah.

  • Dari luas wilayah Kabupaten Kebumen, tercatat 49.768, 00 hektare atau sekitar 31, 04% sebagai lahan sawah dan 108, 343.50 hektare atau 68.96% sebagai lahan kering.
  • Menurut penggunaannya, sebagian besar lahan sawah beririgasi teknis dan hampir seluruhnya (46, 18%) dapat ditanami dua kali dalam setahun, sebagian lagi berupa sawah tadah hujan (37, 82%) yang di beberapa tempat dapat ditanami dua kali dalam setahun, serta 11, 25% lahan sawah beririgasi setengah teknis dan sederhana.
  • Lahan kering digunakan untuk bangunan seluas 40.985, 00 hektare (37, 73%), tegalan/kebun seluas 33.777, 00 hektare (33, 57%) serta hutan negara seluas 22.861, 00 hektare (21, 08%) dan sisanya digunakan untuk padang penggembalaan, tambak, kolam, tanaman kayu-kayuan, serta lahan yang sementara tidak diusahakan dan tanah lainnya.

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

UtaraKabupaten Banjarnegara
TimurKabupaten Wonosobo dan kabupaten Purworejo
SelatanSamudra Hindia
BaratKabupaten Banyumas dan kabupaten Cilacap

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kebumen menjadi sebuah kabupaten yang termasuk Karesidenan Bagelen, kemudian sejak tahun 1901, ketika digabungkan dengan Karesidenan Kedu, kemudian Kebumen menjadi kabupaten, yang termasuk Karesidenan Kedu.

Nama Kebumen konon berasal dari kabumian yang berarti sebagai tempat tinggal Kyai Bumi setelah dijadikan daerah pelarian Pangeran Bumidirja atau Pangeran Mangkubumi dari Mataram pada 26 Juni 1677, saat berkuasanya Sunan Amangkurat I. Sebelumnya, daerah ini sempat tercatat dalam peta sejarah nasional sebagai salah satu tonggak patriotik dalam penyerbuan prajurit Mataram pada zaman Sultan Agung ke benteng pertahanan Belanda di Batavia. Saat itu Kebumen masih bernama Panjer.

Salah seorang cicit Pangeran Senopati yaitu Bagus Bodronolo yang dilahirkan di Desa Karanglo, Panjer, atas permintaan Ki Suwarno, utusan Mataram yang bertugas sebagai petugas pengadaan logistik, berhasil mengumpulkan bahan pangan dari rakyat di daerah ini dengan jalan membeli. Keberhasilan membuat lumbung padi yang besar artinya bagi prajurit Mataram, sebagai penghargaan Sultan Agung, Ki Suwarno kemudian diangkat menjadi Bupati Panjer, sedangkan Bagus Bodronolo ikut dikirim ke Batavia sebagai prajurit pengawal pangan.

Adapun selain daripada tokoh di atas, ada seorang tokoh legendaris pula dengan nama Joko Sangrib, ia adalah putra Pangeran Puger / Pakubuwono I dari Mataram, dimana ibu Joko Sangrib masih adik ipar dari Demang Honggoyudo di Kuthawinangun. Setelah dewasa ia memiliki nama Tumenggung Honggowongso, ia bersama Pangeran Wijil dan Tumenggung Yosodipuro I berhasil memindahkan keraton Kartosuro ke kota Surakarta sekarang ini. Pada kesempatan lain ia juga berhasil memadamkan pemberontakan yang ada di daerah Banyumas , karena jasanya kemudian oleh Keraton Surakarta ia diangkat dengan gelar Tumenggung Arungbinang I, sesuai nama wasiat pemberian ayahandanya. Dalam Babad Kebumen keluaran Patih Yogyakarta, banyak nama di daerah Kebumen adalah berkat usulannya. Di dalam “Babad Mataram” disebutkan pula Tumenggung Arungbinang I berperan dalam perang Mataram/perang kendang/Perang Pangeran Mangkubumi, saat itu ia bertugas sebagai Panglima Prajurit Dalam di Karaton Surakarta.[9]

Peran utama Tumenggung Arungbinang I sesungguhnya adalah sebagai utusan rahasia antara Sinuhun PB II maupun PB III dengan Sri Sultan HB I (P.Mangkubumi) dan juga utusan rahasia Sinuhun PB II maupun PB III dengan P.Sambernyawa (KGPAA Mangkunegoro I). Posisi yang sangat strategis ini tentu jangan sampai ketahuan pihak Belanda. Hal ini tercatat dalam naskah-naskah yang tersimpan di Reksopustoko Mangkunegaran maupun di Sasono Pustoko Keraton Surakarta, dan juga di Museum Radyapustaka Solo.

Jabatan tertinggi yang dicapai Tumenggung Arungbinang I saat itu adalah sebagai Senapati/Panglima Besar Prajurit Keraton Surakarta. Sebenarnya beliau menjadi kandidat Patih Keraton Surakarta, karena ada yang “membocorkan” kiprah beliau sebagai penghubung rahasia antara Keraton Surakarta dengan Keraton Ngayogyakarta maupun Kadipaten Mangkunegaran maka pihak Belanda amat sangat berkeberatan.

Penggabungan Kabupaten Karanganyar (Roma)[sunting | sunting sumber]

Tanggal 31 Desember 1935 merupakan bulan kelabu bagi Kabupaten Karanganyar. Nasibnya sebagai sebuah kabupaten yang berdiri pasca berakhirnya Perang Jawa harus berakhir. Pemerintah Kolonial Belanda resmi memasukan Karanganyar ke wilayah Kabupaten Kebumen mulai 1 Januari 1936. Wilayah dari Kabupaten Karanganyar berdasarkan laporan koran De Locomotief bertanggal 21 Maret 1874, meliputi, Kecamatan Karanganyar, Gombong, Sruweng, Pejagoan, Karanggayam, Klirong, Adimulyo, Petanahan, Kuwarasan, Buayan, Puring, Sempor, Ayah, Rowokele dan Tambak (Saat ini bagian dari Kabupaten Banyumas).[10]

Penghapusan Kabupaten Karanganyar pada kala itu menuai polemik keras dari pemangku jabatan, maupun rakyat di Karanganyar saat itu, terlebih wilayah Karanganyar lebih luas dan kaya dari Kebumen, seperti dalam artikel Een Glorieus Regentegeslacht yang berisi kata sambutan Gubernur Jawa Tengah De Vos yang mengatakan bahwa garis kepemimpinan Aroeng Binang di Kebumen tidak bisa ganggu gugat oleh kekuatan manapun maka Kebumen tidak dapat dihapuskan, meskipun Karanganyar lebih luas dan kaya dari Kebumen. Selain itu, banyak hipotesis dari para sejarawan menyebut penghapusan ini banyak dipengaruhi unsur politik, mengingat Karanganyar menjadi basis perlawanan yang paling kuat terhadap Belanda di Jawa Tengah sejak Perang Jawa era Pangeran Diponegoro, juga banyak melahirkan tokoh-tokoh cerdas sekaligus progresif. Bahkan salah satu Bupati Katanya yaitu R.A.A Tirtokoesoemo merupakan ketua pertama dari gerakan Boedi Oetomo.

Tirtokoesoemo adalah Bupati Karanganyar kedua setelah sebelumnya dipimpin oleh bupati pertama Karanganyar bernama K.R.M.A.A. Djodjodiningrat. Sosok Tirtokoesoemo dapat tergambar dalam harian De Telegraaf bertanggal 07 November 1924. Koran tersebut menyebutkan bahwa Tirtokeosoemo adalah merkwaardigen man (pria yang luar biasa) yang telah mengabdikan dirinya demi kepentingan pemerintah dan rakyat.[11]

Peninggalan dari Kabupaten Karanganyar yang paling menonjol adalah Alun-Alun Karanganyar yang saat ini merupakan alun-alun dengan diameter terbesar di Kabupaten Kebumen. Disekeliling alun-alun juga terdapat pendopo besar disisi Utara, Masjid Agung disisi barat, hingga bekas penjara disisi selatan. Selain itu, penataan Kota Karanganyar yang rapih dinilai merupakan warisan dari Kolonial Belanda.

Lambang[sunting | sunting sumber]

Lambang (seal) Kabupaten Kebumen yang salah menurut Sugiyanto dengan merujuk pada Perda Kabupaten Dati II Kebumen No. 30a dan 30b/DPRD-GR/1970

Lambang Kabupaten Kebumen ditetapkan berdasarkan Perda Kabupaten Dati II Kebumen No. 30a dan 30b/DPRD-GR/1970. Pada 15 Agustus 2021, Bupati Kebumen Arif Sugiyanto menyatakan bahwa lambang yang digunakan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kebumen telah salah dan muncul dalam bermacam-macam versi. Ia mengatakan bahwa hanya ada satu versi yang sesuai dengan Perda tersebut. Lambang tersebut adalah benda sakral yang dimiliki Kabupaten Kebumen dan “jangan sembarangan ganti-ganti tanpa aturan”. Bagi Sugiyanto, ia beranggapan lambang tersebut memuat filosofi dan jatidiri masyarakat Kebumen seluruhnya dengan beragam budaya dan kearifan lokal. Dengan mengadaptasi hari jadi Kebumen yang ditetapkan setiap tanggal 21 Agustus, ia kemudian membeberkan bagaimana lambang kabupaten yang benar menurut Sugiyanto, sebagai berikut:[12][13]

  • Tulisan kebumen
  • Perisai dengan perbandingan 4:3
  • Padi 21 butir
  • Kapas 5 kuntum bunga
  • Warna tanah di atas gua berwarna cokelat
  • Bintang kuning emas
  • Bambu runcing, bukan bentuk tiang atau tugu
  • Batu bata merah kiri-kanan bambu runcing dengan jumlah 13+13
  • Genting merah tidak digambar seperti petir
  • Motto Bhumi tirta mukti bukan Bhumi tirta praja mukti
  • Penggunaan warna biru langit, pada lukisan burung walet, bukan biru jreng

DPRD Kebumen pun mengusulkan sebuah raperda baru untuk lambang daerah Kabupaten Kebumen, yang akhirnya dikukuhkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen No. 6 Tahun 2022, dengan perubahan pada elemen yang ada, sebagai berikut:

  • Padi 8 butir
  • Kapas 5 kuntum bunga dengan bentuk mengadaptasi lambang Jawa Tengah
  • Rantai 17 biji, 8 biji menghadap pengamat
  • Ombak berjumlah 10 di atas dan 11 di bawah
  • Batu bata 8+8 buah dengan setengah potongan di tumpukan nomor 2 dan 4 dari bawah (total 16 bata)
  • Sepasang genting merah (2)
  • Bambu runcing beruas 9
  • Motto Bhumi tirta praja mukti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *